Feeds:
Pos
Komentar

Manajemen Darurat

Tujuan :
1. Dapat melakukan persiapan individual sebelum, saat, dan sesudah  situasi darurat
2. Melakukan orientasi dan koordinasi sebelum, saat, dan sesudah situasi darurat
3. Mendirikan Posko Darurat
Kesiapan Individu :
1.Kumpulkan informasi sebanyak mungkin
  • Apa (situasi bencana)
  • Dimana (Lokasi, Beri tanda di Peta)
  • Kapan (Tanggal:  hari, waktu)
  • Penyebab bencana ?
  • Siapa (Siapa yang terkena dampak bencana tersebut)
  • Bagaimana cara untuk mencapai lokasi bencana
  • Keamanan
  • Kondisi terakhir di lokasi kejadian (peningkatan permasalahan)

Sumber informasi:   Kantor Pusat, Kontak informan lokal (HARUS ADA!! : Cabang PMI, LSM, Kantor Polisi/TNI, Pemimpin masyarakat, dan sumber lain yang memungkinkan

Keamanan dan Keselamatan
•Mencegah  bahaya :Menghindari kemungkinan terjadinya kecelakaan, keluar wilayah yang beresiko, pembatasan perjalanan.
•Mengurangi  resiko

Perlindungan dengan faktor penangkal (menempatkan sistim alarm, penjaga keamanan dll)

Diseminasi terhadap peranan Palang Merah, Relawan dan Staff

•Membatasi  kerugian

asuransi, evakuasi medis dll

2. INDIVIDUAL CHECKLIST

  1. KARTU IDENTITAS DIRI
  2. Perlengkapan pribadi
  3. Lengkapi diri anda dengan peralatan penting yang diperlukan, seperti:  pakaian, peralatan mandi, obat – obatan, dan lain – lain.
  4. Telepon selular dengan baterai ekstra
  5. Alat tulis
  6. Perlengkapan alam bebas
  7. Izin keluarga
  8. Uang Surat Dinas

Di Lokasi ………

Pembentukan Tim

√Identifikasi kapasitas dari masing – masing individu yang menjadi kandidat anggota tim.
√Paling tidak, tentukan kemampuan yang memang harus dimiliki oleh kandidat.

Contoh : PP, DU, dll

√PERHATIKAN pembagian peran, agar tidak terjadi tumpang tindih.
√Ciptakan komunikasi yang 2 arah
√Penempatan orang yang tepat sesuai dengan keahliannya
√JANGAN lupakan semangat Kemanusiaan !
…orientasi & koordinasi…
1. Cari tahu performa PMI Daerah/ Cabang
2. Jika berjalan dengan baik è Libatkan PMI dalam setiap rencana kegiatan.
3. Rencana selanjutnya :
– Hubungi SATLAK/ SATKORLAK è sebagai lembaga kunci yang ikut berperan, secepat mungkin
– Cari tahu informasi dan tanggapan mengenai program yang sudah berjalan.
–  Bentuk Tim Assessment

KOORDINASI

  • Who are doing what ?! –> Pembagian peran dan tanggungjawab yang lebih jelas
  • Membuka dan Mempermudah jalan untuk melakukan assessment
  • Triangulasi data –> cek silang dengan pihak lain
  • Koordinasi dengan PMI Daerah/ Cabang
  • Koordinasi – Negosiasi :
  • TNI, POLRI, Penguasa setempat
  • SATLAK/ SATKORLAK
  • Pihak yang bertikai
  • Masyarakat
  • NGO Lain
…pengorganisasian posko darurat…
1.Harus memiliki informasi yang detil, seperti :
  • Peta lokasi
  • Perencanaan operasi
  • Daftar stakeholder (LSM lain, pemerintah, dll)
  • Contact Person 24 jam/hari
  • Statistik masyarakat
  • Akses transportasi dan komunikasi daerah
2. Akses yang mudah ke masyarakat, pemerintah, lembaga serta pihak lainnya.
3. Lokasi di tempat yang aman, dan berada di daerah yang netral (terutama untuk daerah konflik)
4. Memiliki alat tulis kantor yang memadai
5. Memiliki alat transportasi
6. Ruangan yang memadai untuk bekerja
7. Sumber daya manusia yang tepat, dan memadai
8. Dapat berfungsi sebagai pusat operasi kegiatan darurat.
Disajikan pada : Pelatihan tanggap darurat bagi staf Pusdalops PB, 2009

Sistem Informasi Geografi (SIG) :

suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PETA :

Penyederhanaan  kondisi permukaan bumi dalam bentuk hardprint/data analog.

Titik  :

Merepresentasikan posisi pohon/kota/jembatan

Garis :

Merepresentasikan jalan,  sungai, batas administrasi

Poligon :

Merepresentasikan bangunan, kampung, sawah, hutan, dll

Anotasi/text :

Keterangan yang berkaitan dengan titik, garis, dan poligon pada gambar peta (nama desa, kota, ketinggian, dll)

ARCVIEW GIS 3.3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apakah GPS itu?

GPS = Global Positioning System

Merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk memberikan informasi letak secara global berbasiskan satelit.

MANFAAT PENGGUNAAN GPS

• Pemetaan
• Sebagai penuntun/panduan / penunjuk arah/penentuan lokasi suatu titik/lokasi
MANFAAT UNTUK OPERSIONAL TDB
• PEMETAAN DAERAH DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH BENCANA YANG TERJADI SEHINGGA INFORMASI TENTANG LOKASI TERJADINYA BENCANA DAPAT DISAMPAIKAN KEPADA PIHAK YANG TERKAIT.
• PENENTUAN LOKASI DALAM MEMBUAT SHELTER ( LOKASI POS KESEHATAN, GUDANG, DAPUR UMUM, DLL)

 

Skema penggunaan GPS

Segmen Angkasa

Terdiri atas satelit-satelit GPS yang jumlahnya relatif banyak yaitu 24 buah (merupakan sistem yang dikembangkan oleh amerika serikat), GALILEO (dikembangkan oleh Uni Eropa/ESA), GLONASS (dikembangkan oleh Rusia) dan COMPASS (di kembangkan oleh China)

Segmen Pengontrol

Segmen sistem kontrol (control system segment), yang terdiri dari stasiun-stasiun pemonitor dan pengontrol satelit

Segmen Pengguna

Segmen pengguna (user segmen) yang terdiri dari pemakai GPS, termasuk didalamnya alat-alat penerima dan pengolah sinyal dan data GPS.

GPS yang digunakan pada pelatihan ini :

• Model : etrex CAMO™
• Produksi: GARMIN®
• Software: Forestry GIS (FGIS)
Bagaimana mengoperasikan GPS
Mengaktifkan GPS :
*Tekan tombol power / On beberapa detik
*GPS aktif  > tampil tampilan pencarian satelit > terdapat kalimat “Wait, Tracking Satellite”
*GPS siap digunakan bila satelit yang memandu ada, minimal tiga satelit, hal ini ditandai dengan tampilnya kalimat “Ready to Navigate“.
* GPS belum siap digunakan sebelum tampil kalimat Ready to Navigate

TAMPILAN PADA  GPS

YANG DIPETAKAN PADA OPERASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA

• DAERAH ATAU BATAS WILAYAH DARI  BENCANA
• PEMETAAN DARI RUMAH PENDUDUK DAN PENGHUNI YANG TERKENA (ASSESSMENT DAN ANALISA KEBUTUHAN DARI PENDUDUK TERKAIT)

disajikan pada :

PELATIHAN TANGGAP DARURAT BENCANA

Staf Pusdalops, 8-14 November 2009, @ Bedugul.

Array

ARRAY (LARIK)

Array (larik) adalah sebuah variabel yang dapat menyimpan lebih dari satu nilai sejenis yang memiliki tipe data sama. Hal ini berbeda dengan variabel biasa yang hanya dapat menampung satu buah nilai. Setiap nilai yang disimpan di dalam array disebut dengan elemen array, sedangkan nilai urut yang digunakan untuk mengakses elemennya disebut dengan indeks array.  Indeks array harus bertipe data yang menyatakan keterurutan, misalnya integer atau char.

Contoh : array A yang memiliki 10 buah elemen nilai yang bertipe integer, maka dapat direpresentasikan sbb :

 

A[1]

A[2]

A[3]

A[4]

A[5]

A[6]

A[7]

A[8]

A[9]

A[10]

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

Deklarasi Array berdimensi satu

NamaArray : array[IndeksAwal..IndeksAkhir] of  tipe_data;

Contoh : jika kita ingin mendeklarasikan array dengan nama A yang berisi 10 buah elemen bertipe integer, maka deklarasinya sbb :

Var A : array[1..10] of integer;

Atau dapat juga dideklarasikan dalam bentuk lain :

Var    A1:Array[0..9] of integer;

A2:Array[5..15] of integer;

A3:Array[‘a’..’j’] of integer;

A4:Array[‘A’..’J’] of integer;

Mengakses Elemen Array

Contoh 1 :

Program akses_array_integer;

Var A:array[1..10] of integer;

i : integer;

begin

{mengisikan nilai ke dalam elemen-elemen array}

for i:= 1 to 10 do

A[i]:=i;

{menampilkan nilai yang terdapat di elemen-elemen array}

for i:= 1 to 10 do

write(A[i],’ ‘);

end.

Output :

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Contoh 2 :

program akses_array_char;

uses crt;

const Max = 26; {jumlah abjad alphabet}

var  A : array[1..Max] of char;

c : char;

i : integer; {tipe indeks array}

begin

{mengisikan elemen array}

c:=’a’; {c diisi dengan karakter pertama}

i:=1;  {nilai indeks awal}

while (i<=Max) do

begin

A[i]:=c;

inc(c); {menambah nilai karakter}

inc(i); {manambah nilai indeks}

end;

{menampilkan nilai yang terdapat pada elemen array}

for i:= 1 to Max do

write(A[i],’ ‘);

readln;

end.

Output :

a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z

Array berisi record

Pembuatan array yang elemen-elemennya berupa record sebenarnya sangat sederhana, konsepnya sama seperti pada saat kita mendefinisikan array untuk tipe dasar, seperti integer, char dan real. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mendefinisikan record terlebih dahulu yang selanjutnya akan digunakan sebagai tipe data pada saat pendeklarasian array.

Contoh 1 :

program Array_record;

uses crt;

const max = 100;

type TSiswa = record

NIM : string[8];

Nama : string[25]

end;

TKumpulanSiswa = array[1..max] of TSiswa;

var  A : TKumpulanSiswa;

i, n : integer;

begin

write(‘Masukkan jumlah siswa yang akan diisikan [max. 100] : ‘);

readln(n);

writeln;

{memasukkan data ke dalam array}

writeln(‘Memasukkan Data’);

writeln(‘—————————————————-‘);

for i:= 1 to n do

begin

writeln(‘Data siswa ke-‘,i);

write(‘NIM    : ‘); readln(A[i].NIM);

write(‘NAMA   : ‘); readln(A[i].Nama);

writeln;

end;

{menampilkan data dari dalam array}

writeln;

writeln(‘Daftar Mahasiswa’);

writeln(‘—————————————————-‘);

writeln(‘NIM      ‘,’ ‘:2,’NAMA’);

for i:= 1 to n do

begin

with A[i] do

begin

writeln(NIM:8,’ ‘:2,Nama);

end;

end;

readln;

end.

Output :

 


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:”Copperplate Gothic Bold”; panose-1:2 14 7 5 2 2 6 2 4 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:”Berlin Sans FB”; panose-1:2 14 6 2 2 5 2 2 3 6; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Kapan menggunakan Array ?

Array digunakan bila kita memerlukan penyimpanan sementara data yang bertipe sama di dalam memori, untuk selanjutnya data tersebut dimanipulasi, dihitung atau diterapkan oleh proses lainnya.

Contoh 1 :

program tanpa_array;                                                           Output :

uses crt;

var x,i : integer;

begin

{baca 5 buah data integer masukkan di x}

for i:= 1 to 5 do

begin

write(‘Masukkan data ke-‘,i,’ : ‘);

readln(x);

end;

{cetak setiap nilai x}

writeln;

writeln(‘Data yang telah diinput’);

for i:= 1 to 5 do

write(x,’ ‘);

end.

Contoh 2 :

program dengan_array;                                                         Output :

uses crt;

var x:array[1..5] of integer;

i: integer;   {indeks array}

begin

{baca 5 buah data integer masukkan di x}

for i:= 1 to 5 do

begin

write(‘Masukkan data ke-‘,i,’ : ‘);

readln(x[i]);

end;

{cetak setiap nilai x}

writeln;

writeln(‘Data yang telah diinput’);

for i:= 1 to 5 do

write(x[i],’ ‘);

end.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:”Copperplate Gothic Bold”; panose-1:2 14 7 5 2 2 6 2 4 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face {font-family:”Berlin Sans FB”; panose-1:2 14 6 2 2 5 2 2 3 6; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Mencari Nilai Maksimum Array

Nilai maksimum pada array integer/real adalah elemen array yang mempunyai nilai terbesar di antara elemen array lainnya.

Bila elemen array sudah terurut menaik, harga maksimum langsung diperoleh pada elemen terakhir. Sebaliknya bila elemen array sudah terurut menurun, harga maksimum langsung diperoleh pada elemen pertamanya. Bila elemen array tersusun acak, kita harus mengunjungi seluruh elemen array untuk mencari nilai maksimum.

Analisis :

Nilai maksimum sementara diinisialisasi dengan elemen pertama array. Selanjutnya, array mulai dikunjungi mulai dari elemen kedua. Setiap kali mengunjungi elemen array, bandingkan elemen tersebut dengan nilai maksimum sementara. Jika elemen array yang sedang dibandingkan lebih besar dari nilai maksimum sementara, maka elemen tersebut menjadi maksimum sementara sekarang. Pada akhir kunjungan yaitu setelah seluruh elemen array. dikunjungi, nilai maksimum sementara menjadi nilai maksimum dari seluruh elemen array.

 

 

 

 

 

 

hhh

ARRAY (LARIK)

Array (larik) adalah sebuah variabel yang dapat menyimpan lebih dari satu nilai sejenis yang memiliki tipe data sama. Hal ini berbeda dengan variabel biasa yang hanya dapat menampung satu buah nilai. Setiap nilai yang disimpan di dalam array disebut dengan elemen array, sedangkan nilai urut yang digunakan untuk mengakses elemennya disebut dengan indeks array.  Indeks array harus bertipe data yang menyatakan keterurutan, misalnya integer atau char.

Contoh : array A yang memiliki 10 buah elemen nilai yang bertipe integer, maka dapat direpresentasikan sbb :

A[1]

A[2]

A[3]

A[4]

A[5]

A[6]

A[7]

A[8]

A[9]

A[10]

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

Algoritma

PENDAHULUAN

1.1 Algoritma

Manusia dalam melaksanakan kehidupannya selalu berinteraksi satu sama lain. Dalam proses interaksi tersebut, besar kemungkinan akan menghadapi berbagai masalah atau kendala. Masalah yang timbul mungkin berbeda ataupun sama. Untuk itu dicarilah suatu cara penyelesaian masalah.

Agar solusi dari suatu masalah dapat diperoleh, maka dibuatlah suatu proses atau prosedur. Prosedur tersebut merupakan urutan dari langkah-langkah atau instruksi yang berintegrasi. Usaha untuk mencari solusi dari masalah itu dinamakan algoritma. Istilah algoritma didefinisikan sebagai :

Suatu urutan dari barisan langkah-langkah atau instruksi guna menyelesaikan masalah.

Gambar 1.1

Diagram Alur Proses Penyelesaian Masalah

Dari suatu masalah yang timbul, besar kemungkinan bisa lebih dari satu algoritma yang ditawarkan guna penyelesaian masalah tersebut. Sehingga timbul suatu pertanyaan : “Algoritma mana yang akan digunakan ?”  Kemudian berkembang ke satu pertanyaan lainnya, “Mengapa algoritma tersebut yang digunakan ?”

 

Dalam memilih algoritma yang terbaik, dari sekian banyak algoritma yang ditawarkan harus diperhatikan beberapa kriteria :

1. Ada Output

Suatu algoritma harus mempunyai output, karena output tersebut merupakan solusi dari masalah yang sedang diselesaikan.

2. efektif dan efisiensi

efektif berarti dapat menghasilkan solusi yang sesuai dengan masalah yang diselesaikan. Efisien berarti proses pengerjaan algoritma tersebut relatif lebih singkat dan penggunaan memorinya relatif lebih sedikit.

3. Jumlah Langkahnya Berhingga

Banyaknya instruksi atau langkah-langkah penyelesaian masalah haruslah berhingga. Jika tidak, proses yang dilakukan akan memerlukan waktu relatif lebih lama dan diperoleh hasil yang tidak diperlukan atau tidak berhubungan dengan masalah yang ada. Bahkan akan memungkinkan proses berlangsung terus menerus  walaupun solusi yang diharapkan sudah diperoleh.

4. Berakhir (Finitenes)

Hal ini berkaitan erat dengan kriteria ketiga diatas. Proses di dalam mencari penyelesaian masalah harus berhenti atau berakhir, baik dalam kondisi solusinya ada ataupun tidak. Suatu prosedur yang hanya akan berhenti jika menghasilkan suatu solusi disebut SEMI ALGORITMA.

5. Terstruktur

Urutan penyelesaian masalah harus terstruktur, di susun sedemikian rupa agar proses penyelesaian masalah tidak berbelit-belit, sehingga memungkinkan waktu prosesnya akan menjadi relatif lebih singkat. Dapat dibedakan dengan jelas bagian input, proses dan outputnya, agar memudahkan pada waktu melakukan pemeriksaan ulang.

 

Dari kelima kriteria tersenut diatas, maka dapat  ditentukan suatu algoritma yang terbaik yaitu :

Suatu algoritma harus menghasilkan output yang tepat guna (efektif) dalam waktu yang relatif singkat dan penggunaan memori yang relatif sedikit (efisien) dengan langkah yang berhingga dan prosesnya berakhir, baik dalam keadaan diperoleh suatu solusi ataupun tidak adanya solusi.”

 

Contoh 1.1 :

 

Masalah :

Kita akan mengirim surat melalui Pos kepada seorang sahabat .

Penyelesaiannya :

Langkah-langkah nya adalah (dengan kertas, pulpen dan amplop surat yang telah tersedia) :

(1)    menulis isi surat

(2)  memasukkan kertas surat ke dalam amplop surat dan mengelemnya.

(3)  menuliskan nama dan alamat yang dituju pada amplop depan surat serta nama dan alamat pengirim pada amplop belakang. (jika belum tahu alamat yang dituju, lihat di buku alamat terlebih dahulu)

(4)  menempelkan perangko pada bagian depan amplop

(5)  menuju kantor Pos (atau bis surat)

(6)  meyerahkan surat kepada pegawai Pos (atau memasukkan pada bis surat)

 

Langkah – langkah tersebut  merupakan langkah yang sudah terurut, sehingga masalah dapat terselesaikan dengan “baik”.

 

Contoh 1.2 :

Masalah :

Tentukan akar kuadrat dari suatu bilangan bulat positif !  (akarnya bilangan bulat positif).

Penyelesaiannya :

Semi algoritmanya :

(1)    baca bilangan bulat positif y

(2)  nyatakan nilai q = 0

(3)  hitung P = q x q

(4)  jika P = y, maka q adalah akarnya, lalu berhenti.

(5)  q ditambah 1

(6)  kembali ke langkah (3)

dari semi algoritma tersebut, jika dijalankan maka :

a)     untuk nilai y = 4, prosesnya adalah :

(1)    y = 4

(2)  q = 0

(3)  P = 0 x 0 à P = 0

(4)  P = y à 0 = 4 ? (salah)

(5)  q = 0 + 1 à q = 1

(6)  kembali ke langkah (3) :

(3)  P = 1 x 1 à P = 1

(4)  P = y à 1 = 4 ? (salah)

(5)  q = 1 + 1 à q = 2

(6) kembali ke langkah (3) :

(3) P = 2 x 2 à P = 4

(4) P = y à 4 = 4 ? (benar), q adalah akar dari 4, proses berhenti.

 

(b) untuk nilai y = 5, prosesnya adalah :

(1)    y = 5

(2)  q = 0

(3)  P = 0 x 0 à P = 0

(4) P = y à 0 = 5 ? (salah)

(5) q = 0 + 1 à q = 1

(6)  kembali ke langkah (3) :

(3) P = 1 x 1 à P = 1

(4) P = y à 1 = 5 ? (salah)

(5) q = 1 + 1 à q = 2

(6) kembali ke langkah (3) :

(3) P = 2 x 2 à P = 4

(4) P = y à 4 = 5 ? (salah)

(5) q = 2 + 1 à q = 3

(6) kembali ke langkah (3) :

(3) P = 3 x 3 à P = 9

(4) P = y à 9 = 5 ? (salah)

(5) q = 3 + 1 à q = 4

(6) kembali ke langkah (3)

dan seterusnya.

 

Proses tersebut tidak akan pernah berhenti, karena untuk masalah y = 5 tidak mempunyai solusi.

Untuk itu, SEMI ALGORITMA diatas harus diubah menjadi ALGORITMA agar proses akan berhenti atau berakhir baik dalam keadaan ada solusi maupun tidak ada solusinya. Hal ini cukup dilakukan dengan menambah satu instruksi diantara langkah ke-4 dan ke-5, sehingga algoritmanya adalah :

(1)    baca bilangan bulat positif y

(2)  nyatakan nilai q = 0

(3)  hitung P = q x q

(4)  jika P = y, maka q adalah akarnya, lalu berhenti.

(5)  Jika P > y, maka y tidak punya akar, lalu berhenti.

(6)  q ditambah 1

(7)  kembali ke langkah (3)

 

1.2. Konsep Algoritma

Dalam menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan alat bantu komputer, akan melibatkan lima tahapan yakni :

1.   Analisis Masalah

Yaitu menemukan ide – ide kemungkinan solusi pemecahan masalah (problem solving).

2.   Merancang Algoritma

þ  Menentukan ide/model solusi pemecahan masalah

Contoh :

a) Untuk menentukan akar kuadrat suatu bilangan positif y, maka ditentukan model pemecahannya dengan membuat suatu persamaan matematika :   y = akar x akar

b) Untuk menentukan luas dari sebuah segitiga, maka model atau desain penyelesaiannya adalah dengan membuat suatu persamaan matematika : Luas = Alas x Tinggi / 2

þ  Menyatakan Algoritma

Setelah ditentukan model penyelesaiannya, baru dapat merepresentasi –kan atau menyatakan algoritma. Hal ini berarti membuat suatu barisan langkah-langkah atau instruksi secara terurut guna menyelesaikan masalah.  Pernyataan tersebut hendaknya dibuat secara singkat dengan banyaknya langkah hingga dan terstruktur. Menyatakan suatu algoritma dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu : bahasa semu (deskritif) , flowchart (diagram alur) dan pseudo-code

þ  Memvalidasi Algoritma

Indikasi dari suatu algoritma yang absah (valid) adalah jika penyelesaiannya memenuhi solusi yang sebenarnya. Jadi penyelesaian yang diperoleh harus memecahkan masalah bukannya membuat masalah baru dengan mengabaikan masalah yang sebenarnya. Hal lain yang harus dipenuhi adalah bahwa semua perhitungan, prosedur atau solusinya  selalu benar untuk semua kemungkinan input.

þ  Menganalisa Algoritma

Analisis algoritma dimaksudkan untuk mengetahui tingkat efisiensi proses dalam algoritma, yang berkaitan dengan efisiensi waktu dan efisiensi penggunaan memori dalam sistem komputer.

3.   Membuat program komputer

Langkah ini dimaksudkan untuk mengkonversi  solusi dalam bentuk algoritma menjadi solusi dalam bentuk program komputer yang dikembangkan berdasarkan algoritma yang telah disusun sebelumnya. Program komputer dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman komputer, seperti : Bahasa Pascal, Basic, C, C++, Fortran, Cobol, dll. Bahasa komputer dikembangkan mengarah pada bahasa awam manusia. Dan agar bahasa tersebut dapat diketahui oleh komputer, maka setiap bahasa pemrograman dilengkapi dengan penterjemah (compiler / interpreter).

Terlepas dari bahasa pemrograman yang digunakan, penyusunan program komputer akan memerlukan keterangan yang berkaitan dengan hal berikut :

² Data apa yang tersedia/akan diproses, hal ini diperlukan untuk menentukan tipe data yang diperlukan.

² Bagaimana meng-input-kan data, hal ini diperlukan untuk menentukan jenis instruksi input yang digunakan.

² Dimana data diletakkan, hal ini diperlukan untuk menentukan variabel-variabel yang perlu disediakan dalam program.

² Operasi apa saja yang diperlukan, hal ini diperlukan untuk menentukan operator yang diperlukan.

² Bagaimana susunan urutan instruksi, hal ini diperlukan untuk menentukan struktur proses dan jenis instruksi yang diperlukan (urutan, kondisional/percabangan, atau perulangan).

² Bagaimana menyampaikan informasi hasil pengolahan, hal ini akan menentukan jenis instruksi output yang digunakan.

4.   Menguji program komputer

Sebuah program komputer yang selesai dikembangkan perlu diuji dengan tujuan memastikan bahwa program telah berjalan sesuai dengan prosedur dalam algoritma dan memberikan hasil yang valid untuk semua kemungkinan kasus data yang di-input-kan. Proses pengujian program dan membetulkannya jika terjadi kesalahan disebut sebagai proses debuging.

5.   Dokumentasi (documentation)

Dokumentasi diperlukan dengan tujuan untuk memberikan informasi pemakaian program komputer bagi para pemakai, atau sebagai acuan bagi pengembangan berikutnya. Hal ini dapat dimunculkan dalam bentuk :

  • Fungsi bantuan dalam program
  • Manual program
  • Komentar-komentar di dalam tubuh program

Gambar 1.2

Hubungan antara permasalahan, algoritma dan program komputer

Persyaratan Calon TKI

Persyaratan Fisik :

  1. berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun, kecuali bagi TKI yang akan dipekerjakan pada pengguna perseorangan sekurang-kurangnya berusia 21 (dua puluh satu) tahun, yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan akte kelahiran/surat kenal lahir dari instansi yang berwenang;
  2. surat keterangan sehat dan tidak dalam keadaan hamil dari dokter bagi calon tenaga kerja perempuan;
  3. surat izin dari suami/isteri/orang tua/wali yang diketahui oleh Kepala Desa atau Lurah;
  4. memiliki kartu tanda pendaftaran sebagai pencari kerja (AK/I) dari dinas kabupaten/kota; dan
  5. memiliki ijazah pendidikan terakhir.

Persyaratan Administrasi (dokumen) :

1.   Memiliki KTP, Ijasah pendidikan terakhir, akte lahir/surat kenal lahir;
2.  Surat keterangan status perkawinan/fotocopy buku nikah;
3.  Surat ijin suami/istri/orangtua/wali;
4.  Sertifikat kompetensi kerja;
5.  Keterangan sehat dari hasil pemeriksaan kesehatan dan psikologi;
6.  Paspor;
7.  Visa kerja;
8.  Perjanjian penempatan;
9.  Perjanjian kerja;
10. Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN);

I. PENEMPATAN TENAGA KERJA

Penempatan Tenaga Kerja adalah proses pelayanan kepada pencari kerja untuk memperoleh pekerjaan dan pemberi kerja dalam pengisian lowongan kerja sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan.

II. PELAKSANA PENEMPATAN TENAGA KERJA
A. Pelaksana



INSTANSI PEMERINTAH

Fungsi dan Tugas Pemerintah Pusat :

  1. Merumuskan kebijakan di bidang penempatan tenaga kerja AKL, AKAD dan AKAN;
  2. Merumuskan kebijakan dan pemberian SIP;
  3. Pemberian SPP lintas provinsi;
  4. Merumuskan kebijakan dan pemberian ijin pendirian LPTKS lintas provinsi;
  5. Merumuskan kebijakan dan pemberian ijin pendirian LPTKS;
  6. Pencarian dan penyebarluasan informasi lowongan pekerjaan di luar negeri;
  7. Menyusun sistem dan penyebarluasan IPK skala nasional;
  8. Menyusun proyeksi permintaan dan penawaran tenaga kerja secara nasional;
  9. Pelayanan informasi pasar kerja skala nasional;
  10. Pembinaan dan pelayanan penyuluhan dan bimbingan jabatan skala nasional;
  11. Melakukan pembinaan jabatan fungsional pengantar kerja dan petugas antar kerja skala nasional;
  12. Merumuskan kebijakan dan melaksanakan pengendalian penggunaan tenaga kerja asing;

Fungsi dan Tugas Pemerintah Provinsi :

  1. Pemberian ijin dan pembinaan lembaga penempatan tenaga kerja swasta skala provinsi;
  2. Pemberian SPP lintas kabupaten/kota skala provinsi;
  3. Pembinaan pengantar kerja dan petugas antar kerja skala provinsi;
  4. Supervisi dan pengendalian pelaksanaan antar kerja skala provinsi;
  5. Penyebarluasan lowongan kerja kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota diwilayah kerjanya;
  6. Bertindak sebagai pusat kliring permintaan dan penawaran tenaga kerja dari/kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota wilayah kerjanya;
  7. Mengolah dan menganalisa hasil kegiatan antar kerja skala provinsi;
  8. Pelayanan informasi pasar kerja skala provinsi;
  9. Pembinaan dan pelayanan penyuluhan dan bimbingan jabatan skala provinsi;
  10. Menyusun proyeksi permintaan dan penawaran tenaga kerja skala provinsi;
  11. Menyusun sistem dan penyebarluasan IPK skala provinsi;
  12. Melakukan pembinaan jabatan fungsional pengantar kerja dan petugas antar kerja skala provinsi;
  13. Pengendalian penggunaan tenaga kerja asing.

Fungsi dan Tugas Pemerintah Kabupaten/Kota :

  1. Pelayanan IPK skala kabupaten/kota;
  2. Pelayanan penyuluhan dan bimbingan jabatan skala kabupaten/kota;
  3. Pelayanan penempatan tenaga kerja AKL, AKAD dan AKAN;
  4. Pelayanan perijinan dan pembinaan lembaga penempatan tenaga kerja swasta skala kabupaten/kota;
  5. Pembinaan pelaksanaan bursa kerja di lembaga satuan pendidikan menengah, pendidikan tinggi dan pelatihan;
  6. Menyusun proyeksi permintaan dan penawaran tenaga kerja skala kabupaten/kota;
  7. Melaksanakan pengembangan dan perluasan kesempatan kerja;
  8. Melakukan pembinaan jabatan fungsional pengantar kerja dan petugas antar kerja skala kabupaten/kota;
  9. Pengendalian penggunaan tenaga kerja asing;

LEMBAGA PENEMPATAN TENAGA KERJA SWASTA (LPTKS)

Persyaratan memperoleh ijin LPTKS :

  1. Copy akte pendirian dan/atau akte perubahan badan hukum yang telah mendapat pengesahan dari instansi yang berwenang;
  2. Copy surat keterangan domisili perusahaan;
  3. Copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
  4. Copy bukti wajib lapor ketenagakerjaan sesuai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1981 yang masih berlaku;
  5. Copy anggaran dasar yang memuat kegiatan yang bergerak dibidang jasa penempatan tenaga kerja;
  6. Copy sertifikat hak kepemilikan tanah berikut bangunan kantor atau perjanjian kontrak minimal 5 (lima) tahun yang dikuatkan dengan akte notaris;
  7. Bagan struktur organisasi dan personil;
  8. Rencana kerja lembaga penempatan tenaga kerja minimal 1 (satu) tahun;
  9. Pas foto pimpinan perusahaan berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 3 (tiga) lembar;
  10. Rekomendasi dari instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan kabupaten/kota sesuai dengan domisili perusahaan.

Permohonan Ijin LPTKS ditujukan kepada  :

  1. Direktur Jenderal untuk yang berskala nasional;
  2. Instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan provinsi untuk yang berskala provinsi; atau
  3. Instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan di kabupaten/kota untuk skala kabupaten/kota.

Ijin LPTKS diberikan untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun. Permohonan perpanjangan surat ijin usaha LPTKS diajukan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sebelum berakhir masa berlakunya. Dalam hal LPTKS tidak memperpanjang surat ijin usahanya, maka LPTKS yang bersangkutan wajib mengembalikan surat ijin tersebut kepada Direktur Jenderal atau kepala instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan provinsi atau kepala instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota.

Perpanjangan Ijin LPTKS :

  1. Copy surat ijin LPTKS yang masih berlaku;
  2. Bukti penyampaian laporan kepada Direktur Jenderal atau kepala instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan provinsi atau kepala instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota dalam bentuk rekapitulasi penempatan;
  3. Rencana penempatan tenaga kerja yang akan datang sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun;
  4. Copy bukti kepemilikan sarana dan prasarana kantor serta peralatan kantor, atau bukti surat perjanjian sewa kantor/kerjasama dalam waktu 5 (lima) tahun;
  5. Pas foto penanggung jawab berwarna dengan ukuran 4 x 6 sebanyak 3 (tiga) lembar.

Biaya Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja :

  • Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja dilarang memungut biaya Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja.

(Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang R.I No. 13 Tahun 2003)

  • LPTKS dapat memungut biaya penempatan tenaga kerja dari pengguna tenaga kerja dan dari tenaga kerja untuk golongan dan jabatan tertentu

(Sesuai keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. Nomor: Kep.230/MEN/2003).

BURSA KERJA KHUSUS (BKK)

Bursa Kerja Khusus adalah pelayanan penempatan tenaga kerja yang dilakukan di lembaga satuan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dan pelatihan. Pelayanan dilakukan bagi para lulusan, para siswa yang putus sekolah dan siswa masih aktif.  BKK harus menyampaikan laopran kegiatan penempatan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota.

PAMERAN KESEMPATAN KERJA (JOB FAIR)

Penyelenggaraan Pameran Kesempatan Kerja oleh Swasta wajib mendapatkan rekomendasi dari Instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan kabupaten/kota.

Syarat-syarat penyelenggaraan Pameran Kesempatan Kerja (Job Fair) :

  1. Penyelenggara kegiatan berbadan hukum
  2. Peserta kegiatan adalah perusahaan pemberi kerja;
  3. Melampirkan data jumlah dan syarat lowongan pekerjaan serta rencana penempatan dari pemberi kerja; dan
  4. Tidak memungut biaya kepada pencari kerja dengan cara apapun.

Kewajiban penyelenggara pemberi kesempatan kerja (Job Fair):

a. Melaporkan hasil penempatan langsung setelah selesai penyelenggaraan dan hasil penempatan setela paling lama 3 (tiga) bulan;

  1. Menjaga ketertiban umum

A. Fungsi dan Tugas Pelaksana Penempatan

Pelaksana penempatan tenaga kerja bertugas memberikan pelayanan kepada pencari kerja untuk menemukan dan memiliki pekerjaan yang produktif sesuai dengan kemampuan dan kompetensinya yang memberikan penghidupan yang layak sesuai harkat kemanusiaan dan kepada pemberi kerja yangberbentuk badan usaha atau perorangan untuk mendapatkan tenaga kerja yang memenuhi syarat-syarat jabatan yang diperlukan.

Sistem penempatan tenaga kerja ditinjau dari pendekatan fungsi mencakup pelaksanaan 3 maca fungsi :

1. Pelayanan Informasi Pasar Kerja (IPK)

Pelayanan informasi pasar kerja (IPK) dimanfaatkan untuk pelayanan kepada instansi pemerintah, lembaga kemasyarakat/non pemerintah, badan usaha dan masyarakat lainnya.

Kegiatan IPK meliputi :

  1. Mengumpulkan data informasi yang berasal dari : hasil kegiatan antar kerja disnaker kab/kota berupa data pencari kerja dan lowongan pekerjaan, hasil kunjungan ke perusahaan untuk memperoleh data lowongan kerja, laporan dari pemberi kerja perusahaan.
  2. Kegiatan Pelaksanaan IPK

Mengumpulkan dan meneliti data hasil antar kerja (data pencari kerja, lowongan kerja, penempatan tenaga kerja), mengatur dan menyusun data dalam kelompok umur, jenis kelamin, jabatan, tingkat pendidikan, dan sektor lapangan usaha.

Cara menyebarluaskan IPK

Melalui papan pengumuman, pameran bursa kesempatan kerja (job fair), slide melalui bioskop, Buletin berita pasar kerja, radio, media elektronik, lisan, dan bursa kerja online (BKOL).

Cara menyajikan IPK

Data hasil kegiatan antar kerja disajikan dalam bentuk Laporan IPK/IIIa.

Pelaporan

Setiap bulan Laporan IPK/IIIa dilaporkan oleh disnaker kab/kota kepada disnaker Provinsi, selanjutnya disnaker Provinsi mengirim kepada Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Depnakertrans R.I.

2. Penyuluhan dan Bimbingan Jabatan (PBJ)

Pelayanan PBJ dilakukan kepada pencari kerja yang akan memasuki pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, selain itu pelayanan PBJ dilakukan untuk siswa SMU/SMK, Mahasiswa, penyandang cacat, pemuda, wanita dan lansia. PBJ merupakan langkah awal dalam sistem penempatan tenaga kerja sebagai upaya untuk menanggulangi kesenjangan antara permintaan tenaga kerja/ kesempatan kerja dengan persediaan tenaga kerja. Dengan PBJ masyarakat umum akan mengetahui dan menyadari adanya kesenjangan antara peluang kerja dan kondisi pencari kerja, persyaratan kerja dan kualifikasi tenaga kerja yang ada, pengetahuan dan keterampilan yang disyaratkan serta latar belakang pendidikan yang dipersyaratkan.

Ruang lingkup PBJ :

  1. Penyuluhan dan bimbingan bagi siswa SMU/SMK dalam rangka penjurusan bidang studi untuk memilih bidang studi lanjutan di tingkat perguruan;
  2. Penyuluhan dan bimbingan bagi siswa SMU/SMK yang tidak ingin melanjutkan pendidikan tetapi akan memasuki pasar kerja;
  3. Penyuluhan dan bimbingan kepada pencari kerja yang akan mencari pekerjaan baru;
  4. Pemilihan materi, saran dan prasarana PBJ;
  5. Pemilihan metode yang tepat untuk pelaksanaan PBJ.

3. Perantaraan Kerja

Pelayanan perantaraan kerja dilakukan untuk menyalurkan pencari kerja kepada pekerjaan dalam hubungan kerja.

Tugas Perantaraan kerja meliputi :

  1. Melaksanakan pelayanan kepada pencari kerja;
  2. Melaksanakan pelayanan kepada pemberi kerja;
  3. Melaksanakan pencarian lowongan pekerjaan;
  4. Melakukan pencocokan antara pencari kerja dengan lowongan pekerjaan;
  5. Melaksanakan penempatan tenaga kerja;
  6. Melaksanakan tindak lanjut penempatan tenaga kerja;
  7. Membuat dan melaporkan penempatan tenaga kerja secara berkala.

B. Petugas Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja

Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja dilakukan oleh pengantar kerja. Instansi pemerintah yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan wajib memiliki Pejabat Fungsional Pengantar Kerja. Apabila tidak ada pejabat Fungsional Pengantar Kerja, maka pelayanan dilakukan oleh petugas antar kerja. LPTKS dan Bursa Kerja Khusus harus memiliki kemampuan teknis dibidang Penempatan Tenaga Kerja.

III. MEKANISME PELAYANAN PENEMPATAN TENAGA KERJA

A. Pelayanan Kepada Pencari Kerja

Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja dilakukan secara Manual atau Daring (Online System). Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja harus terintegrasi dalam satu sistem Penempatan Tenaga Kerja Nasional. Pencari kerja yang akan bekerja didalam atau ke luar negeri wajib dilayani oleh Pengantar Kerja di disnaker kab/kota.

Pelayanan yang diberikan kepada pencari kerja antara lain :

1. Pendaftaran Pencari Kerja Baru

Syarat pendaftaran pencari kerja :

a. Fas foto berwarna ukuran 3 x 4 cm sebanyak 2 (dua) lembar;

  1. Memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk yang masih berlaku;
  2. Copy ijasah pendidikan terakhir bagi yang memiliki;
  3. Copy sertifikat keterampilan bagi yang memiliki; dan
  4. Copy surat keterangan pengalaman kerja bagi yang memilliki.

Pencari kerja yang telah mendaftar akan diberikan Kartu tanda bukti pendaftaran pencari kerja (AK/1). Pengantar kerja wajib melakukan pengisian data pencari kerja (AK/II) melalui wawancara langsung untuk mengetahui bakat, minat dan kemampuannya.

2.  Pendaftaran ulang

Kartu AK/I berlaku selama 2 (dua) tahun dengan keharusan melapor selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sekali terhitung sejak tanggal pendaftaran bagi pencari kerja yang belum mendapat pekerjaan. Pencari kerja yang telah mendapatkan pekerjaan wajib melaporkan bahwa yang bersangkutan telah diterima bekerja kepada disnaker kab/kota.

Proses daftar ulang :

  1. Pengantar Kerja Menerima Kartu AK/I dari pencari kerja;
  2. Meneliti kartu AK/I untuk mengetahui status AK/II masih hidup atau sudah dihapuskan;
  3. Mengambil Kartu AK/II yang masih hidup dari file/bak bergerak atau AK/II yang telah dihapuskan dari file/bak mati untuk dihidupkan kembali;
  4. Menyerahkan Kartu AK/II kepada Pengantar Kerja/Petugas Antar Kerja;
  5. Menyimpan kembali kartu AK/II ke dalam file/bak bergerak.

B. Pelayanan Kepada Pemberi Kerja

–       Pemberi kerja wajib menyampaikan informasi lowongan pekerjaan secara tertulis kepada Instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan kabupaten/kota. Informasi lowongan pekerjaan memuat :

a.      Jumlah Tenaga Kerja yang dibutuhkan;
b.      Jenis pekerjaan, jabatan dan syarat-syarat jabatan yang digolongkan dalam jenis kelamin, usia, pendidikan, keterampilan, keahlian, pengalaman kerja dan syarat-syarat lain yang diperlukan.

–          Pengantar Kerja/petugas antar kerja mencatat Informasi lowongan pekerjaan ke dalam daftar isian permintaan tenaga kerja ( AK/ III) dan menerbitkan bukti lapor lowongan pekerjaan.

–          Informasi lowongan pekerjaan (AK/III) pemenuhannya diisi dari data pencari kerja yang terdaftar (AK/II)

–          Pencari kerja yang memenuhi persyaratan jabatan yang dibutuhkan dilakukan pemanggilan dengan menggunakan kartu antar kerja/kartu panggilan kepada pencari kerja (AK/IV).

–          Instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan kab/kota mengirimkan calon tenaga kerja kepada pemberi kerja dengan menggunakan Kartu antar kerja/Surat Pengantar calon tenaga kerja (AK/V).

–          Instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan kab/kota bersama-sama dengan pemberi kerja melakukan seleksi calon tenaga kerja sesuai dengan persyaratak jabatan yang dibutuhkan.

IV. PELAKSANAAN PENEMPATAN TENAGA KERJA

Pelayanan penempatan tenaga kerja menurut lokasi kerja dibagi berdasarkan

A. Penempatan tenaga kerja lokal (AKL)
B. Penempatan tenaga kerja antar daerah (AKAD)

LPTKS dan/atau pemberi kerja yang akan menempatkan tenaga kerja AKAD harus memiliki Surat Persetujuan Penempatan (SPP) yang diterbitkan oleh :

  1. Disnaker Kabupaten/Kota à penempatan TK dalam Kabupaten/Kota
  2. Disnaker Provinsi à penempatan TK lintas kabupaten/Kota dalam satu Prov.
  3. Dirjen Binapenta à penempatan TK lintas provinsi

Syarat mengajukan SPP AKAD :

  1. Surat Permintaan dan rencana kebutuhan tenaga kerja dari pemberi kerja;
  2. Rancangan Perjanjian Kerja antara calon tenaga kerja dengan pemberi kerja;
  3. Perjanjian penempatan tenaga kerja antara calon tenaga kerja dengan LPTKS;
  4. Rekomendasi dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di Kabupaten/kota daerah penerima bagi penempatan tenaga kerja.
  5. C. Penempatan tenaga kerja antar Negara (AKAN)

Penempatan tenaga kerja AKAN dilaksanakan berdasarkan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri dan Permenakertrans R.I Nomor PER.22/MEN/XII/2008 tentang Pelaksanaan penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

V. PELAPORAN

–   Pelaporan dibuat berjenjang dan Hirarkhis.

–     Pelaporan meliputi :

  1. Pencari kerja terdaftar;
  2. Lowongan terdaftar;
  3. Pencari kerja yang telah ditempatkan;
  4. Penghapusan pendaftaran pencari kerja dan lowongan kerja.

–       Laporan dibuat dan disampaikan setiap bulan.